BAB III METODE PENELITIAN


BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Penelitian ini tergolong penelitian deskriptif. Metode deskriptif yaitu sebagai suatu prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan keadaan subjek atau objek penelitian lembaga seseorang dan lain-lain pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta yang tampak atau bagaimana adanya.  (Nawawi, 1990: 63)

Penelitian ini dilakukan di wilayah Kelurahan Tegal Rejo Kecamatan Medan
Perjuangan kota Medan Sumatera Utara. Pemilihan lokasi ini berdasarkan survey awal bahwa terdapat banyak keluarga miskin di kelurahan tersebut sehingga memungkinkan tempat tersebut cocok dijadikan sebagai lokasi
penelitian yang sesuai dengan judul peneliti mengenai strategi adaptasi keluarga miskin terhadap kenaikan harga kebutuhan pokok.

3.2 Populasi dan Sampel

Populasi dari penelitian ini adalah penduduk miskin kelurahan Tegal Rejo
kecamatan Medan Perjuangan Kota Medan yang berjumlah 1110 Kepala Keluarga (KK) dari keseluruhan Kepala Keluarga yang berjumlah 4095 dan total penduduknya berjumlah 21.741 jiwa hingga januari 2006, yang terdiri dari XV
lingkungan. Namun populasi ini sampel hanya menjadi lingkungan II, IV, X, XIV, XV. Alasannya karena di lingkungan – lingkungan tersebut terdapat banyak keluarga miskinnya. Pengclasteran populasi ini adalah menyempitkan populasi, penelitian menjadi unit populasi agar penelitian dapat dilakukan lebih mendalam serta memperoleh data yang lebih valid.

Dari observasi pra survei sebelumnya telah diperoleh jumlah populasi keluarga miskin sebanyak 1110 KK sebagai unit sampel, yang ditarik dengan menggunakan metode claster random sampling. Oleh karena itu ditetapkan
lima lingkungan sebagai sampel wilayah, yakni:

  1. Lingkungan II dengan sampel 9 KK,
  2. Lingkungan IV 11 KK,
  3. Lingkungan IX 10 KK,
  4. Lingkungan XIV 9 KK, dan
  5. Lingkungan XV 11 KK.

3.3 Variabel Penelitian

3.3.1 Pengukuran Variabel Penelitian

Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, dan
dan penyebaran angket. Data yang diperoleh dengan cara studi kepustakaan (library research) yaitu teknik pengumpulan data-data dengan mengacu pada
buku-buku, laporan-laporan penelitian jurnal – jurnal, majalah, koran, pendapat-pendapat para ahli yang dianggap mempunyai hubungan dengan penelitian ini, yang dapat dijadikan sumber data bagi peneliti sehingga dapat mendukung terlaksananya penelitian dengan baik. Data yang dikumpulkan dianalisis secara deskriptif – kualitatif.

3.3.2 Indikator Variabel Penelitian

Biro Pusat Statistik melalui Survei sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) menyusun komposisi kebutuhan dasar yang terdiri dari pangan dan bukan pangan dan adapun indikator untuk mengukur kebutuhan dasar adalah pengeluaran per kapita di daerah kota maupun pedesaan yang dapat dijelaskan sebagai berikut:

A. Pangan, meliputi:

  1. Padi-padian dan hasil hasilnya
  2. Ikan dan hasil-hasil ikan lainnya
  3. Daging
  4. Telur, susu dan hasil hasil dari susu
  5. Sayur-sayuran
  6. Ubi-ubian, kacang-kacangan dan hasil – hasilnya
  7. Buah-buahan
  8. Konsumsi lainnya.

B. Bukan pangan

  1. Perumahan, sewa rumah, bahan bakar,penerangan (listrik), minyak tanah, kayu bakar arang dan air.
  2. Sandang yaitu pakaian.
  3. Pendidikan untuk biaya sekolah seperti uang sekolah, iuran sekolah, alat tulis,buku.
  4. Kesehatan yaitu penyediaan obat-obatan di rumah, ongkos dokter, perawatan kesehatan.
  5. Barang-barang keperluan sehari-hari .

(Widodo, 1990: 128-132).

3.4 Prosedur Pengambilan dan Pengambilan data

Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah

  1. Observasi
    Observasi adalah metode pengamatan yang bertujuan untuk mendapatkan data tentang suatu masalah, sehingga diperoleh pemahaman atau sebagai alat re-checkingin atau pembuktian terhadap informasi / keterangan yang diperoleh sebelumnya.Sebagai metode ilmiah observasi biasa diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan fenomena-fenomena yang diselidiki secara sistematik. Dalam arti yang luas observasi sebenarnya tidak hanya terbatas kepada pengamatan yang dilakukan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Pengamatan tidak langsung misalnya melalui questionnaire dan tes.
  2. Wawancara
    Wawancara merupakan suatu teknik pengumpulan data dengan jalan mengadakan komunikasi dengan sumber data. Komunikasi tersebut dilakukan dengan dialog (Tanya jawab) secara lisan, baik langsung maupun tidak langsung (I.Djumhur dan Muh.Surya, 1985).Wawancara adalah salah satu metode untuk dapat mendapatkan data anak atau orangtua dengan mengadakan hubungan secara langsung dengan informan/face to face relation(Bima Walgito, 1987). dan
  3. Penyebaran angket.
    Angket adalah Daftar pertanyaan (kuisioner) adalah suatu daftar yang berisi prtanyaan-pertanyaan untuk tujuan khusus yang memungkinkan seorang analis system untuk mengumpulkan data dan pendapat dari para responden yang telah dipilih. Daftar pertanyaan ini kemudianakan dikirim kepada para responden yang akan mengisinya sesuai dengan pendapat mereka.
  4. Data yang diperoleh dengan cara studi kepustakaan (library research) yaitu teknik pengumpulan data-data dengan mengacu pada buku-buku, laporan-laporan penelitian jurnal – jurnal, majalah, koran, pendapat-pendapat para ahli yang dianggap mempunyai hubungan dengan penelitian ini, yang dapat dijadikan
    sumber data.

Metode Analisis

Berikut ini disajikan data dan analisis tentang adaptasi masyarakat miskin terhadap inflasi setelah terjadinya kenaikan harga BBM:

  1. Perbandingan banyaknya beras yang dikonsumsi sebelum dan sesudah kenaikan harga BBM.

    Berdasarkan data yang diperoleh dapat diketahui sebelum kenaikan BBM mayoritas responden membutuhkan beras 20-30 kg setiap bulan sebanyak 28 orang (56%),kemudian 31-35 kg sebanyak 17 orang (34%) sedangkan yang menghabiskan 36-40 kg hanya sebanyak 5 orang atau 10%. Setelah BBM naik mayoritas responden menghabiskan 20-30 kg/ perbulan sebanyak 32 orang atau 64% kemudian 31- 35 kg sebanyak 15 orang (30%) dan 36-40 kg sebanyak 3 orang atau 6%. Sedangkan 41 –50 kg sebelum dan sesudah BBM naik tidak dipilih oleh responden. Dari jawaban responden dapat di lihat setelah kenaikan harga BBM terdapat kenaikan kebutuhan bahan makanan pokok hal ini disebabkan banyaknya keluarga yang mengurangi membeli makanan-makanan selain kebutuhan pokok karena harganya semakin mahal. Strategi adaptasi yang dilakukan keluarga miskin dalam hal konsumsi beras perbulannya yaitu menguragi pola konsumsi keluarga dengan mengurangi tingkat konsumsi beras keluarga mereka.

  2. Perbandingan harga beras yang dikonsumsi sebelum dan sesudah kenaikan harga BBM:

    Data primer menunjukkan bahwa harga per kg beras yang dibeli sebelum BBM naik diketahui bahwa mayoritas responden membeli beras kategori harga Rp. 4.000,- s.d. Rp. 4.500,- yang berjumlah 50 orang (100%). Sedangkan setelah harga BBM naik semua responden yang berjumlah 50 orang (100%) membeli beras kategori Rp. 4.600,- s.d. Rp. 5.000,-. Kenaikan harga ini dipicu atau dipengaruhi oleh naiknya harga BBMyang mengakibatkan naiknya harga sembako termasuk beras sehingga para responden harus membeli beras dengan harga yang lebih tinggi dan mahal dari biasa, yang mereka beli guna memenuhi kebutuhan konsumsi keluarga meraka. Oleh sebab itu menurut mereka mereka lebih memilih harga beras yang paling murah yang ada di pasaran sehinnga mereka dapat membeli bahan makanan lain untuk pelengkap konsumsi mereka. Ada beberapa keluarga yang mengganti beras mereka dengan mengkonsumsi beras bulog yang harganya relatif lebih murah dan memanfaatkan bantuan pemerintah dimasa krisis yaitu dengan menerima raskin.

  3. Perbandingan frekuensi makan perhari sebelum dan sesudah kenaikan harga BBM:

    Data primer yang diperoleh menunjukkan bahwa frekuensi tertinggi yaitu 3 kali sehari dengan jumlah responden yang menjawab sebanyak 39 orang (78%) kemudian 2 kali sehari berjumlah 7 orang (14%) dan yang menjawab dan lain-lain bisa lebih dari 3 kali sebanyak 4 orang (8%). Setelah kenaikan BBM terjadi perubahan tentang berapa kali keluarga makan dalam sehari yaitu yang menjawab 3 kali sebanyak 38 orang (76%)yang menjawab 2 kali 10 orang (20%) dan yang menjawab dan lain-lain sebanyak 2 orang (4%). Dari data tersebut menunjukkan bahwa responden mengurangi frekuensi makan keluarga dalam sehari disebabkan oleh naiknya harga-harga bahan makanan yang dipicu oleh naiknya harga BBM sehingga  mempengaruhi pola makan keluarga.Untuk menyesuaikan dengan kenaikan harga BBM maka keluarga miskin melakukan Strategi yaitu mengurangi pola makan dengan membiasakan makan yang tidak berlebih-lebihan misalnya yang biasanya makan lebih dari 3 kali menjadi 2 atau 3 kali sehari.

  4. Perbandingan frekuensi konsumsi ikan sebelum dan sesudah kenaikan harga BBM :

    Berdasarkan jawaban responden pada dapat diketahui bahwa jawaban terbanyak adalah kategori kadang-kadang sebanyak 38 orang (76%) dan kategori sering 12 orang (24%) tidak ada responden yang menjawab sangat sering atau tidak pernah. Setelah kenaikan BBM terdapat perubahan pada jawaban responden yaitu kategori kadang-kadang berjumlah 41 orang (82%) dan yang menjawab sering berjumlah 9 orang (18%) tidak ada yang menjawab sangat sering dan tidak pernah. Maka dari data di atas dapat diketahui bahwa frekuensi keluarga dalam mengkonsumsi ikan menurun karena mahalnya harga ikan yang dipasar sehingga responden tidak mampu membeli ikan tersebut untuk konsumsi keluarga mereka. Strategi adapatasi yang dilakukan keluarga miskin adalah dengan cara mengurangi konsumsi ikan dan menggantinya dengan telur, tempe, tahu atau ikan asin.

  5. Perbandingan frekuensi konsumsi daging sebelum dan sesudah kenaikan harga BBM:

    Berdasarkan jawaban responden tentang frekuensi keluarga dalam mengkonsumsi daging sebelum BBM naik diperoleh jawaban seluruh responden adalah kadangkadang yaitu sebanyak 50 orang (100%). Jadi tidak ada responden yang menjawab sangat sering, sering dan tidak pernah. Setelah harga BBM naik seluruh responden pun menjawab hal yang sama tentang frekuensi keluarga dalam mengkonsumsi daging yaitu dengan menjawab kadang – kadang sebanyak 50 orang (100%). Disini dapat dilihat bahwa kebutuhan responden terhadap konsumsi daging hanya kadang – kadang  saja. Seperti keterangan dari salah seorang responden yang mengatakan bahwa keluarga mereka hanya dapat memakan atau mengkonsumsi daging pada saat ada famili atau tetangga yang mengadakan pesta seperti pernikahan selain itu keluarga mereka juga dapat memakan daging mana kala disaat Lebaran Haji yaitu mereka mendapatkan daging kurban yang dibagikan oleh panitia kurban di yang ada lingkungannya.

  6. Perbandingan frekuensi konsumsi telur sebelum dan sesudah kenaikan harga BBM:

    Berdasarkan jawaban responden tentang frekuensi keluarga dalam mengkonsumsi telur sebelum dan sesudah BBM naik diperoleh jawaban terbanyak adalah kategori sangat sering yaitu 42 orang (84%) kemudian kategori sering sebanyak 8 orang (16%), tidak ada responden yang menjawab kadang-kadang atau tidak pernah. Setelah BBM naik terjadi perubahan tentang frekuensi keluarga mengkonsumsi telur, yang menjawab sangat sering bertambah
    menjadi 45 orang (90%), yang menjawab sering 5 orang (10%) peningkatan jumlah konsumsi telur setelah kenaikan BBM disebabkan naiknya harga ikan dan daging sehingga untuk mensiasatinya mereka mengganti dengan mengkonsumsi telur yang nilai gizinya (protein) juga baik untuk kesehatan keluarga.

  7. Perbandingan frekuensi konsumsi susu sebelum dan sesudah kenaikan harga BBM :

    Berdasarkan jawaban responden tentang frekuensi keluarga dalam mengkonsumsi susu dalam sebulan. Sebelum BBM naik kebanyakan responden menjawab kadangkadang yaitu sebanyak 38 orang (76%), kemudian yang menjawab sering 10 orang (20%) dan tidak pernah 2 orang (4%), tidak ada responden yang menjawab sangat sering. Sedangkan sesudah BBM naik frekuensi keluarga dalam mengkonsumsi susu dalam sebulan menjadi  menurun. Responden yang menjawab kadang-kadang berjumlah 30 orang (60%), responden yang menjawab tidak pernah berjumlah 15 (30%), responden yang menjawab sering berjumlah
    5 orang (10%) dan tidak ada responden yang menjawab sering sekali. Perubahan ini terjadi karena setelah naiknya harga BBM
    harga susu menjadi semakin mahal, harga susu kaleng untuk bayi dan balita saja dipasaran sudah mencapai puluhan bahkan ratusan ribu hal tersebut membuat para kepala rumah tangga terutama keluarga miskin menjadi sangat sulit dalam membelinya bahkan tidak terjangkau dengan penghasilan keluarga mereka.

    Strategi adapatasi yang dilakukan keluarga miskin untuk menyesuaikan diri dengan kenaikan harga BBM yaitu dengan mengurangi konsumsi susu, memilih susu dengan harga yang  murah yang sesuai dengan kemampuan kelurga. Dampak dari penggantian ini terlihat dari gizi yang diperoleh anak menjadi kutang namun hal ini dapat diantisipasi dengan banyak mengkonsunsi telur, tempe dan tahu yang kaya nilai gizinya.

  8. Perbandingan frekuensi konsumsi sayuran sebelum dan sesudah kenaikan harga BBM:

    Dari jawaban responden tentang kebutuhan keluarga dalam mengkonsumsi sayur – sayuran per hari sebelum BBM naik diperoleh jawaban yang paling banyak adalah kategori sering yaitu berjumlah 25 orang (50%), kemudian kategori kadangkadang 20 orang (40%) dan kategori sangat sering 5 orang (10%). Tidak ada responden yang menjawab tidak pernah, sedangkan setelah BBM naik jumlah responden yang mengkonsumsi sayur-sayuran per hariberubah menjadi kategori terbanyak yaitu yang menjawab kadang-kadang sebanyak 26 orang (52%), kemudian yang  menjawab sering 19 orang (38%) dan kategori sangat sering 5 orang (10%), tidak ada responden yang menjawab tidak pernah. Perubahan ini dipengaruhi oleh naiknya ongkos transpor untuk pengangkutan sayur-sayuran tersebut dari tempatnya ditanam ke tempat sayur akan dijual dan dipasarkan, hal ini juga dipengaruhi oleh biaya tanam yang semakin tinggi sehingga harga jual sayur-sayuran tersebut menjadi tinggi yang akhirnya mempengaruhi daya beli konsumen terhadap sayur-sayuran.

    Adapun dari jawaban responden yang menjawab sangat sering
    karena mereka mempunyai lahan atau perkarangan untuk  menanam sayur-sayuran yang mereka konsumsi itupun hanya
    terbatas yang bisa mereka tanam yaitu tanaman yang mudah tumbuh seperti daun ubi, gambas, daun papaya, terong dan lain – lain.

  9. Perbandingan frekuensi konsumsi kacang – kacangan sebelum dan sesudah kenaikan harga BBM:

    Jawaban respoden tentang kebutuhan keluarga dalam  mengkonsumsi kacang – kacangan seperti kacang hijau dan kacang
    merah sebelum BBM naik diperoleh jawaban yang mayoritas yang dipilih para responden adalah adalah kategori kadangkadang berjumlah 50 orang (100%), sedangkan setelah BBM naik responden yang mengkonsumsi kacang-kacangan seperti kacang hijau dan kacang merah jumlah responden yang menjawab juga
    sama dengan sebelum BBM naik. Hal ini menunjukkan bahwa responden dalam mengkonsumsi kacang-kacangan seperti kacang hijau dan kacang merah terkadang saja apabila mereka  mempunyai uang belanja di sisihkan sedikit untuk membeli kacang hijau dan kacang merah untuk dikonsumsi keluarga mereka sebagai tambahan protein bagi keluarga terutama manfaatnya sangat bagi bagi pertumbuhan anak tetapi karena keterbatasan biaya mereka tidak bisa sering mengkonsumsi kacang hijau dan kacang merah tersebut.

  10. Perbandingan frekuensi konsumsi tahu dan tempe sebelum dan sesudah kenaikan harga BBM:

    Berdasarkan jawaban responden tentang kebutuhan keluarga dalam mengkonsumsi tahu dan tempe sebelum dan sesudah BBM
    naik diperoleh jawaban yang terbanyak memilih kategori sering sebanyak 31 orang (62%), kemudian yang memilih kategori kadang-kadang sebanyak 12 orang (46%) dan sangat sering sebanyak 7 orang (14%) tidak ada responden yang memilih  kategori tidak pernah sedangkan setelah BBM naik jawaban dari responden sedikit menurun yang memilih kategori sering  sebanyak 29 orang (58%), kemudian yang memilih kadang-kadang 17 orang (34%) dan yang memilih kategori sangat sering sebanyak 4 orang (8%) tidak ada responden yang memilih kategori tidak  pernah.

    Dari data ini menunjukkan bahwa dengan adanya kenaikan harga BBM hanya sedikit saja berpengaruh terhadap tingkat konsumsi tahu dan tempe. Tahu dan tempe yang dikonsumsi responden dijadikan sebagai makanan alternatif bagi keluarga apabila
    tidak ada menu makanan lain yang dapat dibeli karena harganya mahal mereka terkadang cuma dapat mengkonsumsi tahu dan tempe sebagai lauk makan mereka.

  11. Perbandingan frekuensi konsumsi buah – buahan sebelum dan sesudah kenaikan harga BBM:

    Dari jawaban respoden tentang kebutuhan keluarga dalam mengkonsumsi buah-buahan sebelum BBM naik diperoleh jawaban yang paling banyak adalah kategori kadangkadang berjumlah 39 orang (78%), kemudian kategori sangat sering berjumlah 6 orang (12%), dan yang menjawab kategori sering hanya 5 orang (10%), tidak ada jawaban dari responsden yang memilih kategori tidak pernah sedangkan setelah BBM naik jumlah responden yang mengkonsumsi buah-buahan jawaban dari
    mereka juga sama dengan sebelum BBM naik. Hal ini  menunjukkan responden dalam mengkonsumsi buahan-buahan terkadang saja apabila mereka mempunyai uang belanja di sisihkan sedikit untuk membeli buah-buahan itupun hanya buah yang harganya terjangkau oleh mereka seperti jeruk, pepaya, pisang dan lain-lain.

  12. Perbandingan frekuensi konsumsi snack sebelum dan sesudah kenaikan harga BBM:

    Berdasarkan jawaban responden tentang kebutuhan keluarga dalam mengkonsumsi selain makanan pokok seperti roti, mie, kue
    dan lain-lain sebelum BBM naik diperoleh jawaban yang terbanyak memilih kategori kadang-kadang sebanyak 31 orang (62%), kemudian yang memilih kategori sering sebanyak 19 orang (38%) dan tidak ada yang memilih kategori sangat sering dan kategori tidak pernah sedangkan setelah BBM naik jawaban dari responden menurun yang memilih kategori sering sebanyak 14 orang (28%), kemudian yang memilih kadang-kadang 36 orang (72%) dan tidak
    ada yang memilih kategori sangat sering dan kategori tidak pernah. Perubahan ini terjadi karena kenaikan harga makanan seperti roti, mie, dan kue yang dijual akibatnya responden mengurangi konsumsi terhadap makanan-makan tersebut.

  13. Perbandingan frekuensi konsumsi pakaian sebelum dan sesudah kenaikan harga BBM:

    Berdasarkan jawaban dari responden tentang kebutuhan membeli pakaian sebelum BBM naik diperoleh jawaban mayoritas yang
    dipilih para responden adalah adalah kategori kadang-kadang berjumlah 50 orang (100%), sedangkan frekuensi membeli
    pakaian setelah BBM naik jumlah responden yang menjawab juga sama dengan sebelum BBM naik. Hal ini menunjukkan bahwa responden dalam membeli pakaian hanya terkadang saja mereka membeli pakaian sewaktu hari-hari besar saja seperti Lebaran dan Natal itu pun terkadang hanya dapat membeli baju atau celana saja dan tidak seluruh anggota keluarga yang dapat membeli pakaian
    seperti adiknya saja yang dapat membeli pakaian tetapi kakaknya atau abangnya tidak. Ketiadaan biaya untuk membelikan seluruh pakaian tersebut terkadang membuat para responden selaku kepala keluarga merasa sedih dan kewalahan apalagi disaat hari raya anak-anak mereka meminta mereka membelikan pakaian baru untuk merayakannya.

  14. Perbandingan jenis pakaian yang dibeli sebelum dan sesudah kenaikan harga BBM:

    Berdasarkan jawaban dari responden tentang cara membeli keluarga pakaian sebelum BBM naik diperoleh jawaban yang kebanyakan membeli pakaian bekas berjumlah 27 orang (54%) dan yang membeli pakaian baru 23 orang (46%) sedangkan cara membeli pakaian setelah BBM naik jumlahnya meningkat yaitu
    responden yang memilih menjadi 33 orang (66%) dan yang  membeli pakaian baru berjumlah 17 orang (34%) Hal ini menunjukkan bahwa responden dalam cara membeli pakaian lebih memilih membeli pakaian bekas biarpun tidak baru mereka mempunyai alasan lebih terjangkau dari segi harganya dan di samping itu mutunya lebih baik itulah solusi mereka untuk  memenuhi kebutuhan sandang bagi keluarganya.

  15. Perbandingan tipe rumah yang ditempati sebelum dan sesudah kenaikan harga BBM:

    Berdasarkan jawaban dari responden tentang keadaan rumah yang ditempati sebelum BBM naik diperoleh jawaban terbanyak yang dipilih para responden adalah kategori setengah beton/ semi  permanen 25 orang (50%) kemudian yang memilih kategori papan/ kayu 15 orang (30%) dan yang memilih kategori  beton/permanen 10 orang (20%) sedangkan keadaan rumah yang
    ditempati setelah BBM naik jumlah responden yang menjawab  juga sama dengan sebelum BBM naik. Hal ini menunjukkan bahwa tidak adanya perubahan terhadap kondisi rumah yang mereka tempati selama kenaikan harga setelah BBM naik. Dalam  melakukan srtategi adaptasi terhadap kenaikan harga BBM mereka lebih memilih memperbaiki rumah mereka sendiri apabila ada kerusakan pada rumah yang mereka tempati.

  16. Perbandingan status rumah yang ditempati sebelum dan sesudah kenaikan harga BBM:

    Berdasarkan jawaban responden dapat diketahui bahwa dalam status kepemilikan rumah sebelum BBM naik responden terbesar adalah dengan cara mengontrak / menyewa rumah yang mereka tempati, responden yang mengontrak / menyewa tersebut  berjumlah 24 orang (48%),  selanjutnya responden yang sudah memiliki rumah tempat tinggal atas nama mereka sendiri  berjumlah 15 orang (30%), responden yang rumah tempat  tinggalnya dimiliki secara bersama dengan anggota famili atau keluarga dekat yang lain berjumlah 11 orang (22%). Dari Tabel 29
    menunjukkan tidak adanya perubahan status kepemilikan rumah baik sebelum dan sesudah BBM naik. Responden yang status
    rumahnya merupakan rumah kontrak atau menyewa mereka menyewanya dari warga yang merupakan penduduk asli daerah ini. Besar biaya untuk mengontrak atau menyewa rumah, yang dikeluarkan oleh masing-masing pengontrak umumnya sekitar Rp. 1.200.00,- per tahun. Rumah tersebut sudah memiliki dua buah kamar tidur dan ruang tamu juga kamar mandi. Sementara itu responden yang mempunyai rumah atas nama sendiri adalah mereka yang sudah cukup lama tinggal di lingkungan tersebut dan responden yang status kepemilikan rumahnya milik bersama
    famili adalah suatu keluarga yang saling mempunyai ikatan darah seperti kakak dan adik yang telah menikah dan tinggal bersama dalam satu rumah.

  17. Perbandingan jenis sumber air yang dikonsumsi sebelum dan sesudah kenaikan harga BBM:

    Berdasarkan jawaban responden dapat diketahui bahwa cara dalam memperoleh air sebelum dan sesudah BBM naik tetap sama
    atau tidak berubah. Responden yang memiliki kategori air sumur 34 orang (68%) lebih banyak dari pada air leding 16 orang (32%). Hal ini menunjukkan bahwa mereka lebih memilh menggunakan air sumur dibanding dengan air leding karena mereka beralasan dengan memakai air sumur meraka tidak perlu mengeluarkan biaya dan apa bila menggunakan air air leding mereka harus membayarnya tiap bulannya.

    Sedangkan dampak pada penggunaan air sumur tersebut yaitu air tersebut dari segi kesehatan tidak baik karena lokasi pemukiman mereka sangat rapat dan sedangkan tempat WC ataupun seksiteng
    mereka sangat berdekatan satu rumah kerumah yang lain otomatis sumur yang mereka pakai untuk kebutuhan konsumsi dan keperluan sehari-hari tercemar atau tidak memenuhi standar kesehatan.

  18. Perbandingan jenis penerangan yang digunakan sebelum dan sesudah kenaikan harga BBM:

    Berdasarkan data yang diperoleh menunjukkan bahwa semua responden yang berjumlah 50 orang (100%) sebelum dan sesudah BBM naik menggunakan listrik sebagai alat penerangan di rumah mereka. Alasan mereka dengan menggunakan sumber fasilitas penerangan listrik yang berasal dari jaringan PLN lebih praktis dan mudah selain itu lampu dan juga barang – barang elektronik mereka dapat digunakan seperti radio dan televisi.

    Jadi kenaikan BBM tidak mempengaruhi cara keluarga memperoleh penerangan dirumah. Tetapi karena biaya tarif listrik naik maka strategi mereka dalam menggunakan fasilitas listrik yaitu dengan menghemat listrik dengan mengurangi penggunaan listrik seperti tidak menonton televisi terlalu lama, mematikan
    lampu pada malam hari.

  19. Perbandingan jenis fasilitas kesehatan yang digunakan sebelum dan sesudah kenaikan harga BBM:

    Berdasarkan jawaban dari responden dapat diketahui bahwa sebelum BBM naik tempat yang paling banyak dipilih oleh responden untuk berobat jika ada anggota keluarga yang sakit  adalah di puskesmas 29 orang (58%), selisihnya meningkat sebesar 6% sesudah BBM naik menjadi 32 orang (64%) Menurut responden bahwa ditempat tersebut merupakan tempat tersebut merupakan tempat berobat yang murah, selain tempat pengobatan ini mudah dijangkau karena jaraknya tidak terlalu jauh dari lingkungan tempat tinggal mereka.

    Berobat di puskesmas menurut mereka sudah dapat menyembuhkan penyakit yang diderita oleh anggota keluarga mereka yang sakit, jenis penyakit yang mereka deritapun biasanya
    hanya berupa penyakit ringan antara lain batuk, flu, sakit perut atau diare, dan demam. Sementara itu jenis pengobatan alternatif
    menjadi pilihan responden untuk berobat apabila salah satu dari anggota keluarganya ada yang sakit sebelum BBM naik 10 orang
    (20%) dan sesudah BBM naik 12 orang(24%) selisihnya juga tidak berapa besar hanya 4%. Pengobatan alternatif disini merupakan orang yang pintar mengobati bukan secara medis. Tetapi berupa
    pengobatan tradisional disini antara lain tukang urut, tukang rajah, dan lain-lain. Penyakit yang diobatinya seperti patah
    tulang, mengusuk badan atau urut alasan mereka memilih pengobatan alternatif adalah karena tidak mematok harga atau
    tarif tertentu.

    Selain itu responden juga memilih klinik sebagai tempat berobat
    sebelum BBM naik 9 orang (18%) dan sesudah BBM naik 6 orang (12%) selisihnya 6%. Alasan meraka memilih klinik yaitu saat memeriksakan kesehatan bayi dan istri disaat hamil serta  sakit-sakit yang harus segera diobati segera. Dan yang terakhir
    responden yang menjawab berobat kerumah sakit sebelum BBM naik hanya 2 orang (4%) dan sesudah tidak ada. Mereka berobat
    ke rumah sakit karena penyakitnya sudah berat yang harus dirawat di rumah sakit. Dampak dari peralihan tempat
    perobatan dari rumah sakit kePuskesmas atau ketempat pengobatan alternatif adalah menurunnya mutu pelayanan kesehatan yang diberikan ada juga beberapa pasien yang tidak sesui dengan bebera jenis obat yang diberikan karena rendahnya tingkat diagnosa yang diberikan dan ada juga yang salah tidak serasi dengan pengobatan alternatif karena tidak diperiksa secara teliti dan menggunanakan obat yang tidak sesuai dengan sakit yang diderita misalnya tidak ada dosis atau takaran yang pas untuk tiap penyakit yang diderita.

  20. Perbandingan perolehan fasilitas berobat gratis dari Pemko Medan sebelum dan sesudah kenaikan harga BBM:

    Berdasarkan data yang diperoleh menunjukkan bahwa semua responden yang berjumlah 50 orang dalam menjawab tentang memperoleh pelayanan kesehatan gratis sebelum BBM naik yaitu yang menjawab kategori ada berjumlah 15 orang (30%) dan tidak 35 orang (70%), jawaban responden sama pada saat BBM naik.

    Alasan mereka dengan menjawab tidak karena ketidaktahuan dan tidak ada penjelasan yang diberikan pada mereka. responden mendapatkan informasi bawa ada pelayanan gratis yang diberikan oleh  pemerintah berupa kartu sehat. Maka strategi adaptasi yang mereka lakukan yaitu mengurus kartu tersebut sehingga menguragi beban mereka disaat meraka sedang menderita sakit karena biaya perawatannya gratis atau ditanggung oleh pemerintah.

  21. Perbandingan penyediaan dana untuk sebelum dan sesudah kenaikan harga BBM:

    Berdasarkan jawaban responden dapat di ketahui sbelum BBM naik mayoritas responden tidak menyediakan biaya perobatan perbulannya sebanyak 46 orang (92%) sedangkan yang menjawab telah menyediakan biaya perobatan hanya sebanyak 4 orang (8%). Setelah BBM naik ternyata jumlah responden yang menjawab
    tidak mengalami kenaikan yakni sebanyak 47 orang (94%) dan yang menjawab menyediakan biaya perobatan pun semakin sedikit yakni hanya 3 orang (6%). Dari data tersebut responden memberikan alasan biaya hidup semakin tinggi dan biaya berobat pun semakin mahal jelaslah mereka tidak memikirkan biaya untuk perobatan bagi kesehatan keluarga mereka perbulan.

    Dalam hal ini responden mengaku hanya membeli obat yang tersedia di kedai- kedai sekitar rumah bila sakit. Strategi adaptasi yang dilakukan keluarga miskin dalam penyediaan biaya  perobatan per bulannya bagi keluarga mereka untuk menyesuaikan dengan harga kenaikan BBM adalah dengan
    cara menjaga kesehatan dengan rajin berolah raga, makan yang sehat, istirahat yang cukup dan hanya mengkonsumsi obat jika sakit yang diderita serius dan perlu ditangain secara medis. Obat-obatan yang dipilih adalah yang harganya terjangkau namun tetap memperhatikan mutunya seperti obat Generik.

  22. Perbandingan jumlah anak yang bersekolah sebelum dan sesudah kenaikan harga BBM:

    Berdasarkan jawaban responden dapat diketahui bahwa jumlah anak yang bersekolah sebelum BBM naik paling besar ada 3 orang sebanyak 24 orang atau (48%) kemudian 2 orang sebanyak 14  orang (28%) dan selanjutnya 1 orang sebanyak 8 orang (16%) dan terakhir responden yang menjawab lebih dari 3 orang sebanyak 4
    orang (8%) sedang setelah kenaikan harga BBM jumlah anak yang bersekolah mengalami penurunan yang paling besar tampak apa kategori 3 orang sebanyak 21 orang (42%) kemudian kategori 2 orang sebanyak 17 orang (34%) kategori 1 orang sebanyak 10 orang (20%). Dan terakhir kategori lebih dari 3 orang sebanyak 2 orang (4%) penurunan ini disebabkan tingginya biaya hidup  karena naiknya harga BBM sehingga dana yang disediakan untuk biaya sekolah menjadi berkurang dan ditambah lagi naiknya harga transportasi untuk ke sekolah seperti biaya transportasi dan biaya
    kebutuhan sekolah lainnya dan juga naiknya biaya pendidikan.

  23. Perbandingan kebutuhan sekolah sebelum dan sesudah kenaikan harga BBM:

    Dari jawaban resonden tentang besarnya biaya yang dikeluarkan perbulan untuk kebutuhan sekolah sebelum BBM naik diperoleh jawaban terbanyak adalah berkisar antara Rp. 100.000,- sampai dengan Rp. 200.000,- yaitu sebanyak 36 orang (72%) kemudian biaya berkisar Rp. 300.000,- s.d. Rp. 400.000,- sebanyak 6 orang (12%) lebih dari Rp. 400.000,- sebanyak 6 orang (10%)
    dan kurang dari Rp. 100.000,- sebanyak 3 orang atau (6%). Setelah BBM naik besar biaya yang dikeluarkan keluarga perbulan
    untuk kebutuhan sekolah mengalami perubahan paling banyak responden menjawab berkisar antara Rp. 100.000,- s.d. Rp. 200.000,- sebanyak 20 orang (40%), berkisar Rp. 300.000,- s.d. Rp. 400.000 sebanyak 12 orang (24%) kurang dari Rp. 100.000,- sebanyak 10 orang (20%) dan lebih dari Rp. 400.000,- sebanyak 8 orang (16%). Perubahan ini terjadi akibat naiknya harga kebutuhan pokok yang harus dipenuhi sehingga biaya yang disediakan untuk pemenuhan harga kebutuhan sebulan semakin menurun.

    Strategi adaptasi yang dilakukan keluarga miskin untuk
    menyesuaikan diri dengan kenaikan harga BBM dalam kenaikan biaya kebutuhan sekolah per bulan adalah dengan cara
    memanfaatkan bantuan yang mereka terima dalam bidang pendidikan seperti beasiswa – beasiswa yang diberikan oleh pemerintah kepada anak-anak kurang mampu atau miskin selain itu strategi adaptasi lain yang dilakukan keluarga miskin yaitu
    memasukkan anak-anak mereka kesekolah Inpres yang biaya sekolahnya relatif murah tapi dampaknya mutu pendidikan yang
    diterima anak menjadi rendah sehingga tidak kompetitif dengan sekolah negeri atau swasta terkenal, untuk mengurangi biaya
    transportasi dipilih sekolah yang dekat dengan lokasi rumah atau mengantar anak kesekolah dengan sepeda atau sepeda motor,
    untuk mengurani biaya jajan para orang tua membekali anaknya dengan makanan dan minuman yang di bawa dari rumah.

  24. Perbandingan mengikuti kursus bagi anak sebelum dan sesudah kenaikan harga BBM:

    Dari jawaban responden tentang kebutuhan dalam mengikuti kursus anak di luar sekolah sebelum BBM naik pada umumnya
    responden menjawab tidak yaitu sebanyak 44 orang (88%) dan yang menjawab “Ya” sebanyak 6 orang (12%) setelah BBM naik
    terdapat perubahan jawaban responden terhadap pemenuhan kebutuhan anak dalam mengikuti kursus dan di luar sekolah. Pada
    umumnya menjawab “Tidak” sebanyak 46 orang (96%) dan yang menjawab “Ya’ sebanyak 2 orang (40%) perubahan itu disebabkan mahalnya biaya yang harus dikeluarkan untuk biaya kursus di luar
    sekolah seperti kursus bahasa Inggris, Mandarin, Komputer, dan lain sebagainya.

    Apalagi setelah kenaikan BBM untuk biaya sekolah dan ongkos saja sudah tinggi apalagi kalau ditambah dengan mengikuti kursus di luar sekolah maka pada umumnya responden menjawab tidak mengikuti kursus di luar sekolah. Strategi adaptasi yang dilakukan keluarga miskin untuk menyesuaikan diri dengan harga kenaikan
    BBM dalam hal mengikuti kursus diluar sekolah adalah dengan membiasakan anak belajar dirumah baik secara pribadi atau
    berkelompok dengan teman-temanya namun dampaknya  anak-anak menjadi kurang bimbingan dari pihak-pihak yang
    berkompeten pada bidangnya.

  25. Perbandingan penggunaan alat transportasi keluarga sebelum dan sesudah kenaikan harga BBM:

    Berdasarkan jawaban dari responden dapat diketahui sebelum dan sesudah BBM naik transportasi yang digunakan responden tidak
    mengalami perubahan. Sebanyak 100% responden menjawab ada. Transportasiyang mereka gunakan antara lain sepeda yang rata-rata dimiliki oleh seluruh responden dan becak selain itu responden juga menggunakan angkot sebagai transportasi mereka untuk berpergian jauh.dampak dari penggunaan jenis transportasi tersebut adalah waktu yang ditempuh untuk sampai ketempat tujuan menjadi relatif lama. Namun keuntungan dari penggunan jenis transportasi sepeda adalah mengurangi jumlah polusi dan
    kemacetan.

  26. Perbandingan biaya transportasi keluarga sebelum dan sesudah kenaikan harga BBM:

    Berdasarkan jawaban responden dapat diketahui biaya perbulan yang dikeluarkan oleh setiap responden sebelum BBM naik yang terbanyak adalah kurang dari Rp. 100.000 yakni 43 orang (86%) dan 7 responden menjawab Rp. 100.000,- S.D. 150.000,- atau (14%). Setelah BBM naik jumlah responden yang menghabiskan
    kurang dari Rp. 100.000,- sebanyak 41 orang (82%) dan yang mneghabiskan biaya Rp. 100.000,- sampai dengan 150.000,-
    sebanyak 9 orang atau 18%. Hal ini dimungkinkan banyaknya responden yang menggunakan sepeda milik mereka sebagai
    sarana tranportasi. Dan responden yang menghabiskan biaya pada kategori 2 dan 3 pada tabel di atas adalah responden yang
    menggunakan jasa angkutan umum karena jika menggunakan jenis angkutan umum menambah biaya yang dikeluarkan per harinya.

  27. Perbandingan frekuensi menghadiri pesta sebelum dan sesudah kenaikan harga BBM:

    Berdasarkan jawaban dari responden dapat diketahui bahwa sebelum dan sesudah BBM naik semua responden yang berjumlah 50 orang (100%) menjawab kadang-kadang. Dalam hal menghadiri undangan pesta mereka melakukan strategi adaptasi dengan cara mengurangi frekuensi dalam menghadiri pesta. Hal ini dikarenakan untuk menghadiri undangan mereka pasti mengeluarkan dana untuk pemberian cenderamata / kado karena inilah tidak semua undangan pesta dapat mereka hadiri .

  28. Perbandingan frekuensi biaya menghadiri pesta sebelum dan sesudah kenaikan harga BBM:

    Dari data yang diperoleh dapat diketahui sebelum BBM naik bahwa responden mayoritas menjawab mengeluarkan biaya
    kurang dari Rp. 25.000 sebanyak 50 orang (100%). Sedangkan sesudah BBM naik jumlahnya menurun menjadi 36 orang (72%) responden yang menjawab kurang dari Rp. 25.000,- dan 14 orang atau 28% responden manjawab mengeluarkan biaya untuk menghadiri undangan perbulannya sebesar Rp. 25.000,- s.d. Rp. 30.000,-. Mereka beralasan biaya bahan makanan yang tinggi tentunya mempengaruhi jumlah uang dalam amplop yang diberikan saat menghadiri undangan.

 

Kesimpulan
Berdasarkan hasil pembahasan dapat disimpulkan:

  1. Strategi Adaptasi yang dilakukan masyarakat miskin yang ada di Kelurahan Tegal Rejo adalah pengontrolan konsumsi dan pengeluaran seperti mengurangi jenisdan pola makan, penggantian makanan yang dikonsumsi dengan makanan yang lebihmurah atau terjangkau, memperbaiki rumah sendiri, menanam tanaman yang bisa dikonsumsi diperkarangan rumah mereka,membeli barang-barang yang murah dan tidak membeli barang- barang yang tidak penting, mengurangi pengeluaran untuk pendidikan dan  kesehatan, pemanfaatan bantuan pemerintah dimasa krisis seperti raskin dan beasiswa-beasiswa bagi anak – anak keluarga kurang mampu atau miskin dan mengurangi berpergian ke pesta.
  2. Strategi adaptasi terhadap kenaikan hargakebutuhan pokok di Kelurahan Tegal Rejo secara umum berjalan baik karena mereka berusaha untuk menyesuaikan diri dengan kenaikan harga kebutuhan pokok tersebut dengan cara menyesuaikan penghasilan yang mereka peroleh dengan pengeluaran konsumsi rumah tangga mereka.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s