Analisis Jurnal 3 – 2


TEMA : PENGARUH KENAIKAN HARGA BBM TERHADAP EKONOMI & MASYARAKAT

Judul : PENGARUH KENAIKAN HARGA BAHAN BAKAR MINYAK (BBM)
MARET 2005 TERHADAP PROFITABILITAS USAHA JASA ALSINTAN
DAN USAHA TANI PADI

Pengarang : Pantjar Simatupang, Ketut Kariyasa, Sudi Mardianto,
dan M. Maulana

Tahun : 2005

LATAR BELAKANG MASALAH

Minyak bumi merupakan salah satu jenis sumberdaya alam yang tidak
dapat diperbaharui. Berarti, penggunaan secara terus-menerus menyebabkan
semakin menipisnya persediaan minyak bumi. Globalisasi dan industrialisasi
menyebabkan kebutuhan bahan bakar minyak semakin tinggi. Sementara
kapasitas produksinya tidak mampu mengimbangi pertumbuhan kebutuhannya.

Akibatnya, sepanjang tahun 2005, harga minyak di pasar dunia melonjak dan
sampai Agustus 2005 harga minyak dunia bertahan diatas level 55 US$/barel.
Tingginya harga minyak dunia ini menyebabkan beban subsidi pemerintah
semakin berat. Pola subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) yang selama ini diterapkan ternyata malah menjadi penambah beban keuangan negara.

Kenaikan harga BBM merupakan sebuah konsekuensi dari melonjaknya harga minyak dunia. Kenyataan ini tertuang dalam APBN 2005 yang terus mengalami revisi sebagai penyesuaian meningkatnya harga minyak dunia.
Bahan Bakar Minyak merupakan faktor produksi penting bagi berbagai
kegiatan sektor perekonomian tak terkecuali sektor pertanian. BBM digunakan untuk mesin-mesin penggerak produktif seperti kendaraan bermotor angkutan umum, traktor, industri pengolahan dan generator pembangkit listrik.

Mengingat peran yang amat strategis dari BBM terhadap perekonomian nasional, maka pemerintah mengendalikan penyaluran dan harga BBM. Namun demikian, dalam rangka mengurangi beban subsidi, pemerintah secara periodik melakukan penyesuaian harga BBM agar mendekati harga keseimbangannnya. Pada bulan Maret 2005, pemerintah melakukan penyesuaian harga BBM sehingga harga BBM utamanya Solar mengalami kenaikan yang cukup tajam yaitu sebesar 21,93 persen.

Diantara berbagai BBM, minyak solar merupakan salah satu faktor
produksi penting bagi sektor pertanian, maka kenaikan solar tersebut jelas akan mempengaruhi kinerja sektor pertanian, diantaranya mempengaruhi profitabilitas usaha jasa alat dan mesin pertanian yang secara langsung akan mempengaruhi profitabilitas usahatani padi.

MASALAH

  1. Bagaimanakah strategi adaptasi sosial ekonomi keluarga miskin dalam memenuhi kebutuhan hidup pasca kenaikan harga BBM?
  2. Apa dampak perubahan harga BBM terhadap profitabilitas usaha jasa traktor tangan, pompa air, power thresher, penggilingan padi akibatpeningkatan biaya operasional dan profitabilitas usahatani padi akibat peningkatan ongkos usahatani.
  3. Simulasi dampak rencana kenaikan harga BBM akhir tahun 2005 terhadap profitabilitas usaha jasa traktor tangan, pompa air, power thresher, penggilingan padi dan usahatani padi.
  4. Untuk menyusun rumusan kebijakan yang dipandang sesuai sehubungan dengan kebijakan harga BBM.

TUJUAN

  1. Untuk mengkaji dampak perubahan harga BBM terhadap profitabilitas usaha jasa traktor tangan, pompa air, power thresher, penggilingan padi akibat peningkatan biaya operasional dan profitabilitas usahatani padi akibat peningkatan ongkos usahatani.
  2. Simulasi dampak rencana kenaikan harga BBM akhir tahun 2005 terhadap profitabilitas usaha jasa traktor tangan, pompa air, power thresher, penggilingan padi dan usahatani padi.
  3. Untuk menyusun rumusan kebijakan yang dipandang sesuai sehubungan dengan kebijakan harga BBM.

METODELOGI PENELITIAN

Data

Penelitian ini menggunakan data primer dan sekunder. Data primer dikumpulkan melalui survey di Propinsi Jawa Timur dan Sulawesi Selatan. Untuk data tingkat nasional diperoleh dari rata – rata dua propinsi lokasi survey.
Sumber data sekunder adalah lembaga/instansi yang terkait dengan
data/informasi yang dibutuhkan dalam penelitian antara lain seperti Badan Pusat Statistik dan Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Perkebunan Tingkat I dan II. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 8 sampai dengan 19 Agustus 2005.

Variabel

Variabel yang mempengaruhi penelitian ini ada beberapa, seperti

  1.  Sewa Alsintan
  2. Biaya Pemasaran
  3. Inflasi Pedesaan

Model / Metode Penelitian

Analisis Deskriptif
Analisis deskriptif adalah metode–metode yang berkaitan dengan
pengumpulan dan penyajian suatu gugus data sehingga memberikan informasi
yang berguna (Walpole, 1995). Analisis Deskriptif memberikan informasi
mengenai sekumpulan data dan mendapatkan gagasan untuk keperluan analisis selanjutnya, jika diperlukan analisis ini meliputi penyusunan ukuran pemusatan.

Bagan 1

ukuran penyebaran, label, diagram dan grafik. Akan tetapi jika dari hasil analisis ini sudah dapat diambil kesimpulan yang tepat maka tidak perlu menganalisis dengan cara yang lebih rumit. (Clark and Schkade, 1983).

Perhitungan Profitabilitas Usahatani
Profitabilitas usahatani dihitung dengan menggunakan :


PEMBAHASAN MASALAH

Di Kabupaten Nganjuk Jawa Timur traktor tangan yang digunakan baik
untuk perorangan maupun usaha jasa persewaan banyak dijumpai merupakan
buatan Cina, salah satunya adalah traktor tangan bermerk Dong Feng dengan
tenaga mesin 8.5 PK. Pertimbangan utama petani untuk menggunakan traktor
tangan buatan Cina dibandingkan dengan buatan lainnya seperti merk Kubota dari Jepang adalah harga belinya yang lebih murah.

Sebelum kenaikan harga BBM Maret 2005, biaya operasional traktor
tangan mencapai Rp. 100.087/ha. Komponen biaya terbesar dalam biaya
operasional traktor tersebut adalah upah operator yang mencapai Rp. 45.000/ha atau 44.96 persen dari total biaya operasional. Upah operator ini dihitung sebesar 15 persen dari sewa traktor. Komponen biaya bahan bakar solar merupakan komponen biaya operasional terbesar kedua yang mencapai Rp. 39.000/ha atau sekitar 39 persen. Sementara komponen biaya perawatan dan oli hanya sekitar 16 persen.

Sistem pengupahan jasa traktor adalah borongan per satuan luas. Rata –
rata per hektar luasan sawah ongkos sewa traktor mencapai Rp. 300.000. Dengan ongkos sewa tersebut, laba bersih yang diperoleh pengusaha traktor sekitar Rp. 184.000/ha. Jika penyusutan dimasukan dalam perhitungan biaya total yang per tahunnya mencapai Rp. 16.000, maka rasio pendapatan dengan biaya total (RC rasio dengan biaya total) adalah sebesar 2.58 (Tabel 1).

Tabel 1

Kenaikan harga solar yang diberlakukan oleh pemerintah pada bulan Maret
2005 berpengaruh langsung terhadap biaya operasional pengolahan tanah
dengan traktor. Harga solar yang biasa diperoleh pengusaha dari pengecer desa sebesar Rp. 1.950/liter, setelah kenaikan BBM meningkat menjadi Rp. 2.300/liter. Peningkatan harga solar ini menyebabkan komponen biaya solar meningkat sebesar Rp. 7.000/ha atau 17.9 persen. Harga oli juga meningkat dari Rp. 21.000/liter sebelum kenaikan menjadi Rp. 26.000/liter setelah kenaikan BBM sehingga meningkatkan komponen biaya oli dalam biaya operasional sebesar 23.8 persen. Sementara biaya perawatan meningkat tajam akibat kenaikan BBM sebesar Rp. 5.422/ha atau 42.8 persen.

Untuk komponen biaya upah operator terjadi kenaikan persentase
perhitungan upah dari sewa traktor. Jika sebelum kenaikan BBM nilai upah
operator mencapai 15 persen dari sewa traktor, maka setelah kenaikan BBM
meningkat menjadi 25 persen dari sewa traktor. Sewa traktor sendiri meningkat rata – rata Rp. 60.000/ha atau sekitar 20 persen sehingga upah operator yang merupakan persentase terhadap sewa mengalami peningkatan dua kali lipat dibandingkan sebelum kenaikan BBM. Secara total biaya operasional traktor meningkat menjadi Rp. 158.342/ha atau meningkat sekitar 58 persen. Dengan adanya perhitungan kenaikan biaya operasional dan sewa, maka dapat terlihat bahwa kenaikan harga solar di Kabupaten Nganjuk Jawa Timur telah menyebabkan peningkatan laba bersih para pemilik atau pengusaha jasa traktor sebesar Rp. 1.745/ha atau sekitar 0.95 persen. Tetapi secara keseluruhan RC rasio dengan biaya total turun dari 2.58 menjadi 2.06 setelah adanya kenaikan BBM.

Tabel 2

Pada Tabel 2 disajikan perubahan profitabilitas usaha traktor di Kabupaten
Sidrap akibat adanya kenaikan harga BBM. Untuk menghindari kerugian, kenaikan harga BBM telah direspon dengan adanya penyesuaian besarnya sewa traktor. Sebelum kenaikan harga BBM, besarnya sewa traktor yang umumnya berlaku di Sidrap adalah Rp 400.000/ha dan setelah adanya kenaikan harga BBM menjadi Rp 500.000/ha (meningkat sebesar 25%). Secara keseluruhan biaya operasional yang harus dikeluarkan usaha jasa ini mengalami peningkatan sekitar 24,82% 42.027/ha). Kalau diperinci lebih lanjut, biaya BBM jenis solar dan oli yang dikeluarkan usaha jasa ini meningkat masing-masing 27,27% dan 22,22%, sementara biaya operator meningkat secara proporsional dengan kenaikan sewa traktor, mengingat besarnya ongkos operator 20% dari nilai sewa traktor.

Sebelum kenaikan harga BBM rata-rata keuntungan usaha jasa traktor
sekitar Rp 131 ribu/ha pada tingkat RCR 1,49 dan setelah kenaikan harga BBM
menjadi Rp 189 ribu/ha pada tingkat RCR 1,61. Terlihat bahwa setelah adanya
kenaikan harga BBM justru keuntungan yang diterima usaha jasa ini lebih baik dari sebelumnya. Fakta ini menunjukkan bahwa tambahan biaya operasional akibat adanya kenaikan harga BBM sepenuhnya ditanggung petani. Fakta ini juga menunjukkan bahwa usaha jasa traktor cenderung terlalu tinggi menaikkan sewa traktor, karena pada sewa yang baru keuntungannya semakin membaik secara nominal, juga terjadi kenaikan relatif (%) lebih tinggi dari kenaikan biaya operasional. Tanpa adanya perbaikan harga jual gabah di tingkat petani, maka dapat dipastikan insentif yang diterima petani akan menurun.

Untuk analisa berikutnya silahkan perhatikan tabel
Tabel 3
Tabel 4
Tabel 5
Tabel 6
Tabel 7
Tabel 8
Tabel 9
Tabel 10
Tabel 11
Tabel 12
Tabel 13
Tabel 14
Tabel 15
Tabel 16

KESIMPULAN

Kenaikan harga BBM, utamanya solar, menyebabkan terjadinya kenaikan
biaya operasional usaha jasa traktor, pompa air dan power thresher sekitar 10 – 42 persen. Untuk mempertahankan kelayakan usahanya, para pengusaha jasa alsintan menaikan sewa alsintan rata – rata 13 – 25 persen. Hasil survey di Jawa Timur dan Sulawesi Selatan menunjukkan bahwa kenaikan harga BBM
menyebabkan peningkatan keuntungan bersih (laba bersih) usaha jasa alsintan.

Hal ini menunjukkan bahwa beban peningkatan biaya operasional akibat kenaikan harga BBM jelas dibebankan kepada penyewa yang dalam hal ini adalah petani. Peningkatan harga minyak solar yang menyebabkan peningkatan biaya operasional dan harga sewa serta upah, pada akhirnya akan menurunkan profitabilitas usahatani. Biaya usahatani padi meningkat rata-rata mencapai 11.9 persen dengan peningkatan komponen biaya tertinggi adalah biaya tenaga kerja (26.5%), diikuti pestisida (18.5%), sewa alsin (16.29%), pupuk (13.5%) dan benih (10%). Penerimaan usahatani ternyata juga mengalami peningkatan sebesar Rp. 943.500/ha atau meningkat sekitar 13 persen. Peningkatan penerimaan usahatani ini disebabkan oleh peningkatan harga gabah petani (GKP) rata – rata sebesar Rp. 150/kg atau sekitar 13 persen.

Peningkatan harga gabah ini ternyata mampu menjadi faktor penyangga
keuntungan usahatani sehingga secara umum peningkatan biaya usahatani yang disebabkan kenaikan harga BBM mampu diimbangi oleh peningkatan penerimaan usahatani dan justru berdasarkan kajian lapang meningkatkan keuntungan usahatani padi sebesar Rp. 356.174/ha atau sekitar 15 persen.
Berdasarkan simulasi perubahan struktur biaya dan penerimaan usaha
jasa alsintan dan usahatani padi terhadap kenaikan harga BBM, utamanya harga minyak solar, dari harga sekarang sebesar 20%, 30% 40% dan 50%, terlihat bahwa biaya usahatani mengalami peningkatan yang cukup signifikan.
Untuk mempertahankan atau meningkatkan kelayakan usahatani padi
minimal pada tingkat kelayakan saat ini dengan asumsi produktivitas tetap, maka harus ada peningkatan penerimaan melalui sewa dan harga gabah usahatani sebagai imbangannya. Karena beban peningkatan biaya operasional hampir seluruhnya dibebankan kepada petani maka peningkatan harga gabah menjadi prioritas utama kebijakan mengantisipasi kenaikan harga BBM yang akan datang.

One response to “Analisis Jurnal 3 – 2

  1. Permasalahan yang dipaparkan menarik dan masalah seperti ini berlangsung dari generasi ke generasi. sepertinya tidak dapat dielakkan lagi bila harga bahan bakar naik jelas biaya akan semakin meningkat. Perlu bahan bakar yang murah dan ramah lingkungan sehingga tidak bergantung pada bahan bakar fosil

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s