Tag Archives: jurnal kenaikan harga bbm

Analisis Jurnal 3 – 2


TEMA : PENGARUH KENAIKAN HARGA BBM TERHADAP EKONOMI & MASYARAKAT

Judul : PENGARUH KENAIKAN HARGA BAHAN BAKAR MINYAK (BBM)
MARET 2005 TERHADAP PROFITABILITAS USAHA JASA ALSINTAN
DAN USAHA TANI PADI

Pengarang : Pantjar Simatupang, Ketut Kariyasa, Sudi Mardianto,
dan M. Maulana

Tahun : 2005

LATAR BELAKANG MASALAH

Minyak bumi merupakan salah satu jenis sumberdaya alam yang tidak
dapat diperbaharui. Berarti, penggunaan secara terus-menerus menyebabkan
semakin menipisnya persediaan minyak bumi. Globalisasi dan industrialisasi
menyebabkan kebutuhan bahan bakar minyak semakin tinggi. Sementara
kapasitas produksinya tidak mampu mengimbangi pertumbuhan kebutuhannya.

Akibatnya, sepanjang tahun 2005, harga minyak di pasar dunia melonjak dan
sampai Agustus 2005 harga minyak dunia bertahan diatas level 55 US$/barel.
Tingginya harga minyak dunia ini menyebabkan beban subsidi pemerintah
semakin berat. Pola subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) yang selama ini diterapkan ternyata malah menjadi penambah beban keuangan negara.

Kenaikan harga BBM merupakan sebuah konsekuensi dari melonjaknya harga minyak dunia. Kenyataan ini tertuang dalam APBN 2005 yang terus mengalami revisi sebagai penyesuaian meningkatnya harga minyak dunia.
Bahan Bakar Minyak merupakan faktor produksi penting bagi berbagai
kegiatan sektor perekonomian tak terkecuali sektor pertanian. BBM digunakan untuk mesin-mesin penggerak produktif seperti kendaraan bermotor angkutan umum, traktor, industri pengolahan dan generator pembangkit listrik.

Mengingat peran yang amat strategis dari BBM terhadap perekonomian nasional, maka pemerintah mengendalikan penyaluran dan harga BBM. Namun demikian, dalam rangka mengurangi beban subsidi, pemerintah secara periodik melakukan penyesuaian harga BBM agar mendekati harga keseimbangannnya. Pada bulan Maret 2005, pemerintah melakukan penyesuaian harga BBM sehingga harga BBM utamanya Solar mengalami kenaikan yang cukup tajam yaitu sebesar 21,93 persen.

Diantara berbagai BBM, minyak solar merupakan salah satu faktor
produksi penting bagi sektor pertanian, maka kenaikan solar tersebut jelas akan mempengaruhi kinerja sektor pertanian, diantaranya mempengaruhi profitabilitas usaha jasa alat dan mesin pertanian yang secara langsung akan mempengaruhi profitabilitas usahatani padi.

MASALAH

  1. Bagaimanakah strategi adaptasi sosial ekonomi keluarga miskin dalam memenuhi kebutuhan hidup pasca kenaikan harga BBM?
  2. Apa dampak perubahan harga BBM terhadap profitabilitas usaha jasa traktor tangan, pompa air, power thresher, penggilingan padi akibatpeningkatan biaya operasional dan profitabilitas usahatani padi akibat peningkatan ongkos usahatani.
  3. Simulasi dampak rencana kenaikan harga BBM akhir tahun 2005 terhadap profitabilitas usaha jasa traktor tangan, pompa air, power thresher, penggilingan padi dan usahatani padi.
  4. Untuk menyusun rumusan kebijakan yang dipandang sesuai sehubungan dengan kebijakan harga BBM.

TUJUAN

  1. Untuk mengkaji dampak perubahan harga BBM terhadap profitabilitas usaha jasa traktor tangan, pompa air, power thresher, penggilingan padi akibat peningkatan biaya operasional dan profitabilitas usahatani padi akibat peningkatan ongkos usahatani.
  2. Simulasi dampak rencana kenaikan harga BBM akhir tahun 2005 terhadap profitabilitas usaha jasa traktor tangan, pompa air, power thresher, penggilingan padi dan usahatani padi.
  3. Untuk menyusun rumusan kebijakan yang dipandang sesuai sehubungan dengan kebijakan harga BBM.

METODELOGI PENELITIAN

Data

Penelitian ini menggunakan data primer dan sekunder. Data primer dikumpulkan melalui survey di Propinsi Jawa Timur dan Sulawesi Selatan. Untuk data tingkat nasional diperoleh dari rata – rata dua propinsi lokasi survey.
Sumber data sekunder adalah lembaga/instansi yang terkait dengan
data/informasi yang dibutuhkan dalam penelitian antara lain seperti Badan Pusat Statistik dan Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Perkebunan Tingkat I dan II. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 8 sampai dengan 19 Agustus 2005.

Variabel

Variabel yang mempengaruhi penelitian ini ada beberapa, seperti

  1.  Sewa Alsintan
  2. Biaya Pemasaran
  3. Inflasi Pedesaan

Model / Metode Penelitian

Analisis Deskriptif
Analisis deskriptif adalah metode–metode yang berkaitan dengan
pengumpulan dan penyajian suatu gugus data sehingga memberikan informasi
yang berguna (Walpole, 1995). Analisis Deskriptif memberikan informasi
mengenai sekumpulan data dan mendapatkan gagasan untuk keperluan analisis selanjutnya, jika diperlukan analisis ini meliputi penyusunan ukuran pemusatan.

Bagan 1

ukuran penyebaran, label, diagram dan grafik. Akan tetapi jika dari hasil analisis ini sudah dapat diambil kesimpulan yang tepat maka tidak perlu menganalisis dengan cara yang lebih rumit. (Clark and Schkade, 1983).

Perhitungan Profitabilitas Usahatani
Profitabilitas usahatani dihitung dengan menggunakan :


PEMBAHASAN MASALAH

Di Kabupaten Nganjuk Jawa Timur traktor tangan yang digunakan baik
untuk perorangan maupun usaha jasa persewaan banyak dijumpai merupakan
buatan Cina, salah satunya adalah traktor tangan bermerk Dong Feng dengan
tenaga mesin 8.5 PK. Pertimbangan utama petani untuk menggunakan traktor
tangan buatan Cina dibandingkan dengan buatan lainnya seperti merk Kubota dari Jepang adalah harga belinya yang lebih murah.

Sebelum kenaikan harga BBM Maret 2005, biaya operasional traktor
tangan mencapai Rp. 100.087/ha. Komponen biaya terbesar dalam biaya
operasional traktor tersebut adalah upah operator yang mencapai Rp. 45.000/ha atau 44.96 persen dari total biaya operasional. Upah operator ini dihitung sebesar 15 persen dari sewa traktor. Komponen biaya bahan bakar solar merupakan komponen biaya operasional terbesar kedua yang mencapai Rp. 39.000/ha atau sekitar 39 persen. Sementara komponen biaya perawatan dan oli hanya sekitar 16 persen.

Sistem pengupahan jasa traktor adalah borongan per satuan luas. Rata –
rata per hektar luasan sawah ongkos sewa traktor mencapai Rp. 300.000. Dengan ongkos sewa tersebut, laba bersih yang diperoleh pengusaha traktor sekitar Rp. 184.000/ha. Jika penyusutan dimasukan dalam perhitungan biaya total yang per tahunnya mencapai Rp. 16.000, maka rasio pendapatan dengan biaya total (RC rasio dengan biaya total) adalah sebesar 2.58 (Tabel 1).

Tabel 1

Kenaikan harga solar yang diberlakukan oleh pemerintah pada bulan Maret
2005 berpengaruh langsung terhadap biaya operasional pengolahan tanah
dengan traktor. Harga solar yang biasa diperoleh pengusaha dari pengecer desa sebesar Rp. 1.950/liter, setelah kenaikan BBM meningkat menjadi Rp. 2.300/liter. Peningkatan harga solar ini menyebabkan komponen biaya solar meningkat sebesar Rp. 7.000/ha atau 17.9 persen. Harga oli juga meningkat dari Rp. 21.000/liter sebelum kenaikan menjadi Rp. 26.000/liter setelah kenaikan BBM sehingga meningkatkan komponen biaya oli dalam biaya operasional sebesar 23.8 persen. Sementara biaya perawatan meningkat tajam akibat kenaikan BBM sebesar Rp. 5.422/ha atau 42.8 persen.

Untuk komponen biaya upah operator terjadi kenaikan persentase
perhitungan upah dari sewa traktor. Jika sebelum kenaikan BBM nilai upah
operator mencapai 15 persen dari sewa traktor, maka setelah kenaikan BBM
meningkat menjadi 25 persen dari sewa traktor. Sewa traktor sendiri meningkat rata – rata Rp. 60.000/ha atau sekitar 20 persen sehingga upah operator yang merupakan persentase terhadap sewa mengalami peningkatan dua kali lipat dibandingkan sebelum kenaikan BBM. Secara total biaya operasional traktor meningkat menjadi Rp. 158.342/ha atau meningkat sekitar 58 persen. Dengan adanya perhitungan kenaikan biaya operasional dan sewa, maka dapat terlihat bahwa kenaikan harga solar di Kabupaten Nganjuk Jawa Timur telah menyebabkan peningkatan laba bersih para pemilik atau pengusaha jasa traktor sebesar Rp. 1.745/ha atau sekitar 0.95 persen. Tetapi secara keseluruhan RC rasio dengan biaya total turun dari 2.58 menjadi 2.06 setelah adanya kenaikan BBM.

Tabel 2

Pada Tabel 2 disajikan perubahan profitabilitas usaha traktor di Kabupaten
Sidrap akibat adanya kenaikan harga BBM. Untuk menghindari kerugian, kenaikan harga BBM telah direspon dengan adanya penyesuaian besarnya sewa traktor. Sebelum kenaikan harga BBM, besarnya sewa traktor yang umumnya berlaku di Sidrap adalah Rp 400.000/ha dan setelah adanya kenaikan harga BBM menjadi Rp 500.000/ha (meningkat sebesar 25%). Secara keseluruhan biaya operasional yang harus dikeluarkan usaha jasa ini mengalami peningkatan sekitar 24,82% 42.027/ha). Kalau diperinci lebih lanjut, biaya BBM jenis solar dan oli yang dikeluarkan usaha jasa ini meningkat masing-masing 27,27% dan 22,22%, sementara biaya operator meningkat secara proporsional dengan kenaikan sewa traktor, mengingat besarnya ongkos operator 20% dari nilai sewa traktor.

Sebelum kenaikan harga BBM rata-rata keuntungan usaha jasa traktor
sekitar Rp 131 ribu/ha pada tingkat RCR 1,49 dan setelah kenaikan harga BBM
menjadi Rp 189 ribu/ha pada tingkat RCR 1,61. Terlihat bahwa setelah adanya
kenaikan harga BBM justru keuntungan yang diterima usaha jasa ini lebih baik dari sebelumnya. Fakta ini menunjukkan bahwa tambahan biaya operasional akibat adanya kenaikan harga BBM sepenuhnya ditanggung petani. Fakta ini juga menunjukkan bahwa usaha jasa traktor cenderung terlalu tinggi menaikkan sewa traktor, karena pada sewa yang baru keuntungannya semakin membaik secara nominal, juga terjadi kenaikan relatif (%) lebih tinggi dari kenaikan biaya operasional. Tanpa adanya perbaikan harga jual gabah di tingkat petani, maka dapat dipastikan insentif yang diterima petani akan menurun.

Untuk analisa berikutnya silahkan perhatikan tabel
Tabel 3
Tabel 4
Tabel 5
Tabel 6
Tabel 7
Tabel 8
Tabel 9
Tabel 10
Tabel 11
Tabel 12
Tabel 13
Tabel 14
Tabel 15
Tabel 16

KESIMPULAN

Kenaikan harga BBM, utamanya solar, menyebabkan terjadinya kenaikan
biaya operasional usaha jasa traktor, pompa air dan power thresher sekitar 10 – 42 persen. Untuk mempertahankan kelayakan usahanya, para pengusaha jasa alsintan menaikan sewa alsintan rata – rata 13 – 25 persen. Hasil survey di Jawa Timur dan Sulawesi Selatan menunjukkan bahwa kenaikan harga BBM
menyebabkan peningkatan keuntungan bersih (laba bersih) usaha jasa alsintan.

Hal ini menunjukkan bahwa beban peningkatan biaya operasional akibat kenaikan harga BBM jelas dibebankan kepada penyewa yang dalam hal ini adalah petani. Peningkatan harga minyak solar yang menyebabkan peningkatan biaya operasional dan harga sewa serta upah, pada akhirnya akan menurunkan profitabilitas usahatani. Biaya usahatani padi meningkat rata-rata mencapai 11.9 persen dengan peningkatan komponen biaya tertinggi adalah biaya tenaga kerja (26.5%), diikuti pestisida (18.5%), sewa alsin (16.29%), pupuk (13.5%) dan benih (10%). Penerimaan usahatani ternyata juga mengalami peningkatan sebesar Rp. 943.500/ha atau meningkat sekitar 13 persen. Peningkatan penerimaan usahatani ini disebabkan oleh peningkatan harga gabah petani (GKP) rata – rata sebesar Rp. 150/kg atau sekitar 13 persen.

Peningkatan harga gabah ini ternyata mampu menjadi faktor penyangga
keuntungan usahatani sehingga secara umum peningkatan biaya usahatani yang disebabkan kenaikan harga BBM mampu diimbangi oleh peningkatan penerimaan usahatani dan justru berdasarkan kajian lapang meningkatkan keuntungan usahatani padi sebesar Rp. 356.174/ha atau sekitar 15 persen.
Berdasarkan simulasi perubahan struktur biaya dan penerimaan usaha
jasa alsintan dan usahatani padi terhadap kenaikan harga BBM, utamanya harga minyak solar, dari harga sekarang sebesar 20%, 30% 40% dan 50%, terlihat bahwa biaya usahatani mengalami peningkatan yang cukup signifikan.
Untuk mempertahankan atau meningkatkan kelayakan usahatani padi
minimal pada tingkat kelayakan saat ini dengan asumsi produktivitas tetap, maka harus ada peningkatan penerimaan melalui sewa dan harga gabah usahatani sebagai imbangannya. Karena beban peningkatan biaya operasional hampir seluruhnya dibebankan kepada petani maka peningkatan harga gabah menjadi prioritas utama kebijakan mengantisipasi kenaikan harga BBM yang akan datang.

Analisis Jurnal 2 – 2


TEMA : PENGARUH KENAIKAN HARGA BBM TERHADAP EKONOMI & MASYARAKAT

Judul : STRATEGI ADAPTASI SOSIAL EKONOMI KELUARGA MISKIN PASCA KENAIKAN HARGA BAHAN BAKAR MINYAK (BBM) (Studi Kasus terhadap Keluarga Miskin di Kelurahan Pulo Brayan Kota, Kecamatan Medan Barat, Medan)

Pengarang : Hendra Wahyudi, Sismudjito

Tahun : 2007

LATAR BELAKANG MASALAH

Kemiskinan merupakan masalah sosial laten yang senantiasa hadir di tengah-tengah masyarakat, khususnya di negara-negara berkembang. Dalam konteks masyarakat Indonesia, masalah kemiskinan juga merupakan masalah sosial yang senantiasa relevan untuk dikaji secara terus menerus. Bukan saja karena masalah kemiskinan telah ada sejak lama, melainkan pula karena hingga kini belum bisa dientaskan dan bahkan kini gejalanya semakin meningkat sejalan dengan krisis multidimensional yang masih dihadapi oleh bangsa Indonesia.

Harga-harga kebutuhan pokok semakin membubung tinggi, nyaris tak terjangkau, seiring kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) secara berkala, sementara upaya penanggulangan kemiskinan yang dilakukan pemerintah tak
kunjung mampu mengentaskan kemiskinan secara menyeluruh.

Program kompensasi yang dilaksanakan pemerintah, termasuk penyaluran Bantuan Langsung Tunai (BLT) bagi keluarga miskin nyata-nyata tak mampu menanggulangi semua dampak negatif akibat kenaikan BBM. Pemberian bantuan subsidi langsung ini tidak akan memecahkan masalah kemiskinan. Subsidi lebih banyak bersifat membantu sesaat karena daya beli masyarakat miskin yang sangat lemah. Bantuan Langsung Tunai atau dana kompensasi BBM yang diberikan pemerintah kepada masyarakat miskin adalah bias
penanggulangan kemiskinan, karena dinilai hanya akan menciptakan sindrom ketergantungan bagi masyarakat miskin. Sesungguhnya, BLT hanya cocok diberikan bagi kelompok masyarakat yang tidak berdaya (disable group),
misalnya orang cacat dan jompo terlantar.

Kebijakan kenaikan harga BBM ini lebih banyak memberikan dampak negatif dibandingkan dampak positif bagi masyarakat kecil, dan juga semakin membawa ekonomi rakyat menengah ke bawah menuju keterpurukan.

MASALAH

Bagaimanakah strategi adaptasi sosial ekonomi keluarga miskin dalam memenuhi kebutuhan hidup pasca kenaikan harga BBM?

TUJUAN

Untuk membantu peningkatan kesejahteraan masyarakat ekonomi menengah kebawah di daerah – daerah lainnya, dengan cara memanfaatkan strategi adaptasi dan penanganan masalah yang tepat.

METODELOGI PENELITIAN

Data

Masyarakat di Kelurahan Pulo Brayan Kota, Kecamatan Medan Barat, Medan. Lokasi dipilih karena di sana terdapat cukup banyak keluarga miskin (sekitar 30% dari total 1.154 KK, yakni sejumlah 346 KK) dapat bertahan pasca kenaikan BBM.

Variabel

  1. Masyarakat yang tergolong miskin, dengan kriteria utama berpendapatan sebesar Rp.143.595,/bulan/kapita. Apabila rata-rata anggota rumah tangga berjumlah 4,36 jiwa, maka rumah tangga/keluarga yang berpenghasilan Rp.626.000,-/bulan adalah dalam ambang kemiskinan atau dapat dikategorikan miskin.
  2. Merupakan suatu keluarga, yang terdiri atas suami, istri, anak, dan kerabat lain yang ditanggung.
  3. Dapat mempertahankan kelangsungan hidup pasca kenaikan harga BBM dengan mengembangkan cara atau strategi tertentu.

Tahapan Penelitian

Menentukan parameter – parameter yang berkaitan dengan coping strategies /  strategi bertahan dari masyarakat miskin, dengan hasil sebagai berikut

  1. Peningkatan Aset
    Melibatkan lebih banyak anggota keluarga untuk bekerja, memulai usaha kecil-kecilan, memulung barang-barang bekas, menyewakan kamar, menggadaikan barang, meminjam uang di bank atau lintah darat.
  2. Pengontrolan Konsumsi dan Pengeluaran
    Mengurangi jenis dan pola makan, membeli barang-barang murah, mengurangi pengeluaran untuk pendidikan dan kesehatan,  mengurangi kunjungan ke desa, memperbaiki rumah atau alat-alat rumah tangga sendiri.
  3. Pengubahan Komposisi Keluarga
    Migrasi ke desa atau ke kota lain, meningkatkan jumlah anggota rumah tangga untuk memaksimalkan pendapatan, menitipkan
    anak ke kerabat atau keluarga lain baik secara temporer maupun permanen.

METODE PENELITIAN

Jenis penelitian yang dilakukan menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus (case study) tipe deskriptif.  Adapun studi kasus tipe deskriptif dapat melacak urutan peristiwa hubungan antarpribadi, menggambarkan subbudaya, dan menemukan fenomena kunci (Yin, 2003: 5).

HASIL & ANALISIS

Masyarakat Pulo Brayan Kota, menerapkan strategi adaptasi dengan mencari pekerjaan sampingan, seperti ibu – ibu disana yang membuka warung makan, menjajakan pakaian atau perabot rumah tangga dari rumah ke rumah secara tunai/kredit, mengambil jahitan atau bordir pakaian, menjual sulaman, menawarkan jasa pijat, atau berkeliling menawarkan jasa mengerjakan pekerjaan rumah tangga seperti mencuci, menyetrika, dan membersihkan rumah.

Sedangkan para Bapak memilih untuk mencari pekerjaan sampingan dengan menjadi makelar atau perantara dalam jual beli tanah, rumah, atau barang-barang elektronik. Ada juga yang membuka kedai kopi, warung rokok,
maupun tempat cuci kendaraan (doorsmeer). Selain itu, masih ada yang menggunakan waktu senggangnya di akhir pekan untuk bertukang (membuat perlengkapan rumah tangga dari bahan kayu untuk dijual) atau menawarkan jasa mengecat pagar dan rumah bila dibutuhkan. Sedangkan masyarakat yang berprofesi sebagai Karyawan memilih untuk lembur dan menambah jam kerja mereka.

Sebagian lainnya memanfaatkan pekarangan pribadinya untuk menanam sayuran, selain untuk memenuhi kebutuhan pangan sendiri, apabila ada kelebihan maka bisa diberikan ke tetangga yang membutuhkan. Sebagian lainnya memilih untuk beternak ayam dan bebek.

Hal ini terkait dengan kebijakan Pemerintah mengenai pengentasan kemiskinan yang ada di Indonesia, untuk itu diperlukan strategi untuk mengatasi kemiskinan.

  1. Strategi pengentasan kemiskinan hendaknya diarahkan untuk
    mengikis nilai-nilai budaya negatif seperti apatis, apolitis, fatalistik, ketidakberdayaan, dan sebagainya. Apabila budaya ini tidak dihilangkan, kemiskinan ekonomi akan sulit untuk ditanggulangi.
  2. Untuk meningkatkan kemampuan dan mendorong produktivitas, strategi yang dipilih adalah peningkatan kemampuan dasar masyarakat miskin untuk meningkatkan pendapatan melalui langkah perbaikan kesehatan dan pendidikan, peningkatan
    keterampilan usaha, teknologi, perluasan jaringan kerja (networking), serta informasi pasar.
  3. Melibatkan masyarakat miskin dalam keseluruhan proses penanggulangan kemiskinan, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, dan evaluasi, bahkan pada
    proses pengambilan keputusan.
  4. Strategi pemberdayaan. Masyarakat miskin adalah kelompok yang mampu membangun dirinya sendiri jika pemerintah mau memberi kebebasan bagi kelompok itu untuk mengatur dirinya.

 

KESIMPULAN & SARAN

1. Kenaikan harga BBM (Bahan Bakar Minyak) dipastikan akan semakin memberatkan masyarakat, terutama kalangan miskin. Oleh sebab itu, pemerintah diharapkan bisa lebih berpihak pada kepentingan rakyat, dengan
mempertimbangkan secara seksama bila hendak menaikkan harga BBM di masa mendatang. Sedapat mungkin, bila masih ada alternatif kebijakan lain yang bisa ditempuh, disarankan agar menghindari menaikkan harga BBM.

2. Hendaknya diperhatikan dengan seksama agar penyaluran dana kompensasi subsidi BBM benar-benar diterima oleh yang berhak dan membutuhkannya.

3. Strategi adaptasi sosial ekonomi masyarakat miskin perlu dihargai sebagai suatu bentuk inisiatif menghadapi sulitnya keadaan, namun perlu diawasi agar jangan sampai malah semakin menjerat mereka dalam perangkap kemiskinan.

4. Dalam perumusan kebijakan pengentasan kemiskinan, pemerintah perlu lebih memperhatikan aspirasi dan kebutuhan masyarakat miskin.

Analisis Jurnal 1 – 2


Judul : ADAPTASI MASYARAKAT MISKIN TERHADAP INFLASI
AKIBAT KENAIKAN HARGA BBM

Pengarang : Dewi Hartika Nasution

Tahun : 2006

TEMA : PENGARUH KENAIKAN HARGA BBM TERHADAP EKONOMI & MASYARAKAT

LATAR BELAKANG MASALAH

Dalam  kehidupan sehari – hari di lingkungan masyarakat Indonesia, kemiskinan merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan. Sebagian besar masyarakat Indonesia masih hidup di bawah garis kemiskinan, dan masih kesulitan dalam memenuhi berbagai macam kebutuhan primer mereka.

BBM, yang merupakan faktor penting dalam perekonomian sangat mempengaruhi kehidupan masyarakat kecil, seperti pada tahun 2005, kebijakan Pemerintah untuk menaikkan harga BBM yang dirasakan perlu untuk menyehatkan kembali perekonomian negara memberi dampak yang cukup besar kepada masyarakat kecil.

Kenaikan harga BBM berdampak luas pada kehidupan masyarakat disemua lapisan masyarakat, terutama masyarakat yang tergolong tingkat ekonomi lemah. Hal yang paling nyata dapat kita lihat dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat, contohnya dalam sebuah rumah tangga di mana ibu-ibu sangat
merasakan dampak dari kenaikan harga BBM di mana semua harga kebutuhan pokok menjadi melambung di atas harga yang biasanya ada di pasaran. Hal ini tentu sangat memberatkan kehidupan perekonomian dalam rumah tangga
mereka.

Maka untuk menghadapi keadaan tersebut perlu adaya suatu strategi adaptasi yang dilakukan keluarga khususnya bagi keluarga miskin untuk memenuhi kebutuhan pokok mereka.

JURNAL

Jurnal yang memotivasi penulis untuk membuat jurnal ini, adalah sebagai berikut :

Sismudjito, Kemiskinan di Sumatera Utara, Jurnal Pemberdayaan, Komunitas.USU Volume 3, Nomor 3, September 2004.

Suyanto, Bagong, Perangkap Kemiskinan: Problem & Strategi Pengentasannya,
Airlangga University Press, 1994.

Widodo, Suseno Triyanto, Hg, Drs, Indikator Ekonomi, Kanisius, Yogyakarta, 1990 Wie, Thee Kian, Dr, Pemerataan Kemiskinan Dan Ketimpangan, Sinar Harapan, Jakarta. 1981.

MASALAH

1. Bagaimanakah strategi penghematan biaya sehari-hari di Tegal Rejo?

2. Bagaimana adaptasi rakyat di Tegal Rejo terhadap Inflasi setelah kenaikan harga BBM?

TUJUAN

Untuk mengetahui alternatif apa yang dapat digunakan oleh masyarakat, khususnya masyarakat Tegal Rejo dalam memenuhi kebutuhan sehari – hari dan tingkat adaptasi masyrakat Tegal Rejo khususnya pasca kenaikan harga BBM.

METODELOGI

Data

Populasi dari penelitian ini adalah penduduk miskin kelurahan Tegal Rejo kecamatan Medan Perjuangan Kota Medan yang berjumlah 1110 Kepala Keluarga (KK) dari keseluruhan Kepala Keluarga yang berjumlah 4095 dan total penduduknya berjumlah 21.741 jiwa hingga januari 2006, yang terdiri dari XV
lingkungan. Namun populasi ini sampel hanya menjadi lingkungan II, IV, X, XIV, XV.

Variabel

Berikut ini dilampirkan data – data variabel dari Desa Tegal Rejo dengan menggunakan format tabel

Tabel 1

Tabel 2

Tabel 3

Tabel 4

Tabel 5

Tabel 6

Tahapan Penelitian

Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, dan
dan penyebaran angket. Data yang diperoleh dengan cara studi kepustakaan (library research) yaitu teknik pengumpulan data-data dengan mengacu pada
buku-buku, laporan-laporan penelitian jurnal, majalah, koran, pendapat-pendapat para ahli yang dianggap mempunyai hubungan dengan penelitian ini, yang dapat dijadikan sumber data bagi peneliti sehingga dapat mendukung terlaksananya penelitian dengan baik. Data yang dikumpulkan kemudian dianalisis secara deskriptif – kualitatif.

Model Penelitian

Penelitian dilakukan dengan cara menganalisis dan mengukur perubahan pola gaya hidup dan daya beli masyarakat desa Tegal Rejo dengan beberapa parameter seperti, frekuensi memakan beras, ikan, daging, telur, susu, sayuran, kacang – kacangan, tahu, tempe, buah, snack, pakaian, jenis rumah, fasilitas kesehatan, jumlah anak yang bersekolah dan penggunanaan alat transportasi.

 

HIPOTESIS

1. Strategi Adaptasi yang dilakukan masyarakat miskin yang ada di Kelurahan Tegal Rejo adalah pengontrolan konsumsi dan pengeluaran seperti mengurangi jenis dan pola makan, penggantian makanan yang dikonsumsi dengan makanan yang lebih murah atau terjangkau, memperbaiki rumah sendiri, menanam tanaman yang bisa dikonsumsi diperkarangan rumah mereka, membeli barang- barang yang murah dan tidak membeli barang- barang yang tidak penting, mengurangi pengeluaran untuk pendidikan dan kesehatan, pemanfaatan bantuan pemerintah dimasa krisis seperti raskin dan beasiswa-beasiswa bagi  anak – anak keluarga kurang mampu atau miskin dan mengurangi berpergian ke pesta.

2. Strategi adaptasi terhadap kenaikan harga kebutuhan pokok di Kelurahan Tegal Rejo secara umum berjalan baik karena mereka berusaha untuk menyesuaikan diri dengan kenaikan harga kebutuhan pokok tersebut dengan cara menyesuaikan penghasilan yang mereka peroleh dengan pengeluaran konsumsi rumah tangga mereka.

SARAN

  1. Agar strategi adaptasi di Kelurahan Tegal Rejo bisa berjalan dengan baik, seluruh anggota keluarga turut berperan serta dengan cara lebih giat bekerja, mencaripekerjaan sampingan mengontrol pola konsumsi makanan dan hidup sederhana.
  2. Agar keluarga miskin melakukanpengendalian pengeluaran dari segi keuangan.
  3. Agar adanya sistem gotong royong diantaraanggota keluarga dalam mengelola makanandan sumber daya alam yang ada di lingkungan.
  4. Hendaknya keluarga miskin melakukanpeningkatan asset seperti melibatkan lebih banyak anggota keluarga dalam bekerja.

sumber

Analisis Jurnal 3


TEMA : PENGARUH KENAIKAN HARGA BBM TERHADAP EKONOMI & MASYARAKAT

Judul : PENGARUH KENAIKAN HARGA BAHAN BAKAR MINYAK (BBM)
MARET 2005 TERHADAP PROFITABILITAS USAHA JASA ALSINTAN
DAN USAHA TANI PADI

Pengarang : Pantjar Simatupang, Ketut Kariyasa, Sudi Mardianto,
dan M. Maulana

Tahun : 2005

LATAR BELAKANG MASALAH

Minyak bumi merupakan salah satu jenis sumberdaya alam yang tidak
dapat diperbaharui. Berarti, penggunaan secara terus-menerus menyebabkan
semakin menipisnya persediaan minyak bumi. Globalisasi dan industrialisasi
menyebabkan kebutuhan bahan bakar minyak semakin tinggi. Sementara
kapasitas produksinya tidak mampu mengimbangi pertumbuhan kebutuhannya.

Akibatnya, sepanjang tahun 2005, harga minyak di pasar dunia melonjak dan
sampai Agustus 2005 harga minyak dunia bertahan diatas level 55 US$/barel.
Tingginya harga minyak dunia ini menyebabkan beban subsidi pemerintah
semakin berat. Pola subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) yang selama ini diterapkan ternyata malah menjadi penambah beban keuangan negara.

Kenaikan harga BBM merupakan sebuah konsekuensi dari melonjaknya harga minyak dunia. Kenyataan ini tertuang dalam APBN 2005 yang terus mengalami revisi sebagai penyesuaian meningkatnya harga minyak dunia.
Bahan Bakar Minyak merupakan faktor produksi penting bagi berbagai
kegiatan sektor perekonomian tak terkecuali sektor pertanian. BBM digunakan untuk mesin-mesin penggerak produktif seperti kendaraan bermotor angkutan umum, traktor, industri pengolahan dan generator pembangkit listrik.

Mengingat peran yang amat strategis dari BBM terhadap perekonomian nasional, maka pemerintah mengendalikan penyaluran dan harga BBM. Namun demikian, dalam rangka mengurangi beban subsidi, pemerintah secara periodik melakukan penyesuaian harga BBM agar mendekati harga keseimbangannnya. Pada bulan Maret 2005, pemerintah melakukan penyesuaian harga BBM sehingga harga BBM utamanya Solar mengalami kenaikan yang cukup tajam yaitu sebesar 21,93 persen.

Diantara berbagai BBM, minyak solar merupakan salah satu faktor
produksi penting bagi sektor pertanian, maka kenaikan solar tersebut jelas akan mempengaruhi kinerja sektor pertanian, diantaranya mempengaruhi profitabilitas usaha jasa alat dan mesin pertanian yang secara langsung akan mempengaruhi profitabilitas usahatani padi.

MASALAH

“Bagaimanakah strategi adaptasi sosial ekonomi keluarga miskin dalam memenuhi kebutuhan hidup pasca kenaikan harga BBM?”

PEMBAHASAN MASALAH

1. Apa dampak perubahan harga BBM terhadap profitabilitas usaha
jasa traktor tangan, pompa air, power thresher, penggilingan padi akibat
peningkatan biaya operasional dan profitabilitas usahatani padi akibat
peningkatan ongkos usahatani.
2. Simulasi dampak rencana kenaikan harga BBM akhir tahun 2005 terhadap
profitabilitas usaha jasa traktor tangan, pompa air, power thresher,
penggilingan padi dan usahatani padi.
3. Untuk menyusun rumusan kebijakan yang dipandang sesuai sehubungan
dengan kebijakan harga BBM.

KESIMPULAN

Kenaikan harga BBM, utamanya solar, menyebabkan terjadinya kenaikan
biaya operasional usaha jasa traktor, pompa air dan power thresher sekitar 10 – 42 persen. Untuk mempertahankan kelayakan usahanya, para pengusaha jasa alsintan menaikan sewa alsintan rata – rata 13 – 25 persen. Hasil survey di Jawa Timur dan Sulawesi Selatan menunjukkan bahwa kenaikan harga BBM
menyebabkan peningkatan keuntungan bersih (laba bersih) usaha jasa alsintan.

Hal ini menunjukkan bahwa beban peningkatan biaya operasional akibat kenaikan harga BBM jelas dibebankan kepada penyewa yang dalam hal ini adalah petani. Peningkatan harga minyak solar yang menyebabkan peningkatan biaya operasional dan harga sewa serta upah, pada akhirnya akan menurunkan profitabilitas usahatani. Biaya usahatani padi meningkat rata-rata mencapai 11.9 persen dengan peningkatan komponen biaya tertinggi adalah biaya tenaga kerja (26.5%), diikuti pestisida (18.5%), sewa alsin (16.29%), pupuk (13.5%) dan benih (10%). Penerimaan usahatani ternyata juga mengalami peningkatan sebesar Rp. 943.500/ha atau meningkat sekitar 13 persen. Peningkatan penerimaan usahatani ini disebabkan oleh peningkatan harga gabah petani (GKP) rata – rata sebesar Rp. 150/kg atau sekitar 13 persen.

Peningkatan harga gabah ini ternyata mampu menjadi faktor penyangga
keuntungan usahatani sehingga secara umum peningkatan biaya usahatani yang disebabkan kenaikan harga BBM mampu diimbangi oleh peningkatan penerimaan usahatani dan justru berdasarkan kajian lapang meningkatkan keuntungan usahatani padi sebesar Rp. 356.174/ha atau sekitar 15 persen.
Berdasarkan simulasi perubahan struktur biaya dan penerimaan usaha
jasa alsintan dan usahatani padi terhadap kenaikan harga BBM, utamanya harga minyak solar, dari harga sekarang sebesar 20%, 30% 40% dan 50%, terlihat bahwa biaya usahatani mengalami peningkatan yang cukup signifikan.
Untuk mempertahankan atau meningkatkan kelayakan usahatani padi
minimal pada tingkat kelayakan saat ini dengan asumsi produktivitas tetap, maka harus ada peningkatan penerimaan melalui sewa dan harga gabah usahatani sebagai imbangannya. Karena beban peningkatan biaya operasional hampir seluruhnya dibebankan kepada petani maka peningkatan harga gabah menjadi prioritas utama kebijakan mengantisipasi kenaikan harga BBM yang akan datang.

Analisis Jurnal 2


TEMA : PENGARUH KENAIKAN HARGA BBM TERHADAP EKONOMI & MASYARAKAT

Judul : STRATEGI ADAPTASI SOSIAL EKONOMI KELUARGA MISKIN PASCA KENAIKAN HARGA BAHAN BAKAR MINYAK (BBM) (Studi Kasus terhadap Keluarga Miskin di Kelurahan Pulo Brayan Kota, Kecamatan Medan Barat, Medan)

Pengarang : Hendra Wahyudi, Sismudjito

Tahun : 2007

LATAR BELAKANG MASALAH

Kemiskinan merupakan masalah sosial laten yang senantiasa hadir di tengah-tengah masyarakat, khususnya di negara-negara berkembang. Dalam konteks masyarakat Indonesia, masalah kemiskinan juga merupakan masalah sosial yang senantiasa relevan untuk dikaji secara terus menerus. Bukan saja karena masalah kemiskinan telah ada sejak lama, melainkan pula karena hingga kini belum bisa dientaskan dan bahkan kini gejalanya semakin meningkat sejalan dengan krisis multidimensional yang masih dihadapi oleh bangsa Indonesia.

Harga-harga kebutuhan pokok semakin membubung tinggi, nyaris tak terjangkau, seiring kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) secara berkala, sementara upaya penanggulangan kemiskinan yang dilakukan pemerintah tak
kunjung mampu mengentaskan kemiskinan secara menyeluruh.

Program kompensasi yang dilaksanakan pemerintah, termasuk penyaluran Bantuan Langsung Tunai (BLT) bagi keluarga miskin nyata-nyata tak mampu menanggulangi semua dampak negatif akibat kenaikan BBM. Pemberian bantuan subsidi langsung ini tidak akan memecahkan masalah kemiskinan. Subsidi lebih banyak bersifat membantu sesaat karena daya beli masyarakat miskin yang sangat lemah. Bantuan Langsung Tunai atau dana kompensasi BBM yang diberikan pemerintah kepada masyarakat miskin adalah bias
penanggulangan kemiskinan, karena dinilai hanya akan menciptakan sindrom ketergantungan bagi masyarakat miskin. Sesungguhnya, BLT hanya cocok diberikan bagi kelompok masyarakat yang tidak berdaya (disable group),
misalnya orang cacat dan jompo terlantar.

MASALAH

“Bagaimanakah strategi adaptasi sosial ekonomi keluarga miskin dalam memenuhi kebutuhan hidup pasca kenaikan harga BBM?”

PEMBAHASAN MASALAH

1) Di balik angka subsidi BBM yang sedemikian besar, ternyata hanya sebagian
kecil yang tepat sasaran. Selama ini, subsidi BBM diduga lebih banyak dinikmati golongan menengah ke atas.

2) Perbedaan signifikan harga BBM domestik dibanding harga BBM di luar negeri memotivasi pihak-pihak tertentu untuk melakukan penyelundupan minyak mentah ke luar negeri. Bahkan tidak tanggung-tanggung sejumlah oknum Pertamina tertangkap tangan terlibat ”bisnis ekspor BBM ilegal”.

3) Kenaikan harga BBM tersebut akan memacu masyarakat bukan saja berhemat di dalam pemakaian BBM, tetapi juga akan memacu diversifikasi dan ekstensifikasi pemakaian energi dalam negeri. Hal itu akan mendorong ditemukannya penggunaan sumber energi alternatif non-BBM.

4) Untuk memenuhi asas keadilan, pemberian subsidi haruslah tepat sasaran, yakni terbatas hanya pada kalangan yang miskin. Untuk itu, jenis BBM yang umumnya dikonsumsi kalangan menengah ke atas dan kalangan industri, seperti premium dan minyak solar, tidak seharusnya disubsidi lagi. Hanya jenis BBM yang umum digunakan rakyat kecil, seperti minyak tanah, yang masih layak disubsidi.

KESIMPULAN

1. Kenaikan harga BBM (Bahan Bakar Minyak) dipastikan akan semakin memberatkan masyarakat, terutama kalangan miskin. Oleh sebab itu, pemerintah diharapkan bisa lebih berpihak pada kepentingan rakyat, dengan
mempertimbangkan secara seksama bila hendak menaikkan harga BBM di masa mendatang. Sedapat mungkin, bila masih ada alternatif kebijakan lain yang bisa ditempuh, disarankan agar menghindari menaikkan harga BBM.

2. Hendaknya diperhatikan dengan seksama agar penyaluran dana kompensasi subsidi BBM benar-benar diterima oleh yang berhak dan membutuhkannya.

3. Strategi adaptasi sosial ekonomi masyarakat miskin perlu dihargai sebagai suatu bentuk inisiatif menghadapi sulitnya keadaan, namun perlu diawasi agar jangan sampai malah semakin menjerat mereka dalam perangkap kemiskinan.

4. Dalam perumusan kebijakan pengentasan kemiskinan, pemerintah perlu lebih memperhatikan aspirasi dan kebutuhan masyarakat miskin.